DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN

Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan

Peningkatan Produksi Dangke

Menurut Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil di Kantor Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Enrekang, drh. Junwar, MSi, produk dangke di Kabupaten Enrekang sekarang sekitar 3.000 biji setiap hari. ‘’Produk dangke tersebut baru dapat memenuhi sekitar 20 persen dari kebutuhan lokal masyarakat di Bumi Massenrempulu,’’ katanya.drh. Junwar,MSiMenurut alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada (UGM) tahun 1989 ini, untuk satu biji dangke yang beratnya antara 330 sampai 350 gram tersebut terbuat dari bahan baku 1,5 liter susu murni kerbau atau sapi.Lantaran itu, penyandang gelar master agrobisnis dari Universitas Muhammadiyah Parepare tahun 2011 menyatakan, tak hanya berprospek tapi juga dangke cukup prospektif dikembangkan sebagai usaha guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rakyat ke depan. Bahkan, jelasnya, produk lokal rakyat Bumi Masenrempulu ini bisa dijadikan sebagai brand daerah ‘Enrekang sebagai Kabupaten Dangke.’Alasannya, antara lain, dangke sebagai food cultur (makanan tradisional) yang bergizi tinggi, produk lokal bernilai ekonomi yang hanya terdapat di Kabupaten Enrekang. Pengembangan dangke juga sekaligus dapat menjadi entry point dari pengembangan usaha peternakan khususnya di Kabupaten Enrekang yang 85 persen wilayahnya merupakan lereng berkemiringan antara 15 hingga 45 derajat.Lagi pula, urainya, dengan pengembangan produk dangke tersebut merupakan langkah tepat bagi pengembangan usaha industri biologis melalui ternak kerbau atau sapi yang dapat senantiasa terbarukan. ‘’Pengembangan produk dangke akan memberikan pertambahan nilai ekonomi yang cukup tinggi di tengah masyarakat lantaran merupakan salah satu produk agribinis yang mencapai 3 log. Dari usaha peternakan sapi, menghasilkan susu, susu dijadikan dangke serta turunan produk lainnya berupa pembuatan krupuk dangke yang kini mulai dicobakan di Kabupaten Enrekang,’’ papar Junwar.

Berdasarkan catatan pihak Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Enrekang, saat ini populasi ternak di Bumi Masserempulu sudah mencapai 1.400-an ekor sapi perah dan sekitar 48.000 ekor sapi potong. Untuk ternak kerbau mencapai 6.000-an ekor.Junwar yang sebelumnya telah bertugas di Kantor Dinas Peternakan Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Maros, Kabupaten Bulukumba, dan di Rumah Potong Hewan Kota Makassar mengaku, dia yang pada tahun 2002 mulanya mengusul dimasukkannya bibit sapi perah asal Pulau Jawa ke Kabupaten Enrekang terutama untuk memenuhi bahan baku susu bagi pengrajin dangke.Di masa-masa lalu, ceritanya, Dangke Enrekang lebih banyak dibuat dari susu kerbau. Akan tetapi dalam perkembangannya kemudian lebih banyak dipilih bahan baku dari susu sapi yang kandungan lemaknya 2,6 – 2,8 persen. Dangke susu sapi lebih gurih dibandingkan menggunakan susu kerbau yang kandungan lemaknya mencapai 3,2 persen.Lagi pula, dari seekor kerbau betina hanya dapat menghasilkan 5 hingga 6 liter susu setiap hari. Atau hanya dapat digunakan untuk membuat 2 sampai 3 biji dangke. Sedangkan dari seekor sapi perah, dapat dihasilkan 20 hingga 30 liter susu setiap hari. ‘’Bahkan dengan perlakuan tertentu seekor sapi perah berpotensi menghasilkan hingga 60 liter susu setiap hari,’’ jelas Junwar.Kini di seluruh Kabupaten Enrekang terdapat sekitar 300-an pengrajin dangke. Setiap pengrajin umumnya memiliki minimal satu ekor sapi perah.Melalui program Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE), pihak perbankan telah mengucurkan bantuan permodalan usaha kepada 14 kelompok tani peternak dan pengrajin dangke di Kabupaten Enrekang. KKPE diberikan kepada kelompok-kelompok tani yang dinilai potensial di pedesaan dengan bunga 6 persen per tahun, dan nilai pemberian kredit bisa mencapai maksimal Rp 100 juta.Persyaratan pemberian KKPE hampir sama dengan pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR). Bedanya, bunga KUR 14 persen setahun dengan plafon kredit maksimum Rp 20 juta. KUR diberikan tanpa agunan, sedangkan KKPE selain hanya diberikan terhadap usaha yang sedang berjalan – bukan usaha yang baru dimulai. Juga harus ada agunan, lantaran dipertanggunjawabkan oleh masing-masing individu dalam kelompok sesuai nilai kredit yang mereka pakai.‘’Saat ini sudah ada dana permodalan usaha sekitar Rp 3 miliar melalui KKPE yang disalurkan kepada kelompok-kelompok tani peternak dan pengrajin dangke yang direkomendasi pihak Dinas Peternakan dan Perikanan di Kabupaten Enrekang,’’ ungkap Junwar. Lalu menambahkan, untuk sementara pihak perbankan barulah sebatas menyalurkan KKPE kepada peternak sapi dan kerbau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: